Dokter

Kalian tidak usah heran ketika dokter atau petugas medis sedikit berlebihan pada anda. Ketika anda hanya merasa sedikit sakit kemudian dia mengeluarkan ekspresi yang berlebihan. Hal itu hanyalah hal tolol yang mereka lakukan untuk cari aman. Kalau anda berhasil sehat itu akan membantu mereka untuk menjadi pahlawan. Dan ketika faktanya anda mati itu akan membantunya mengurangi beban hujatan dari orang lain kepada mereka.

Untuk membatu mereka, takutlah!. Karena itu akan membuat mereka yakin kalau pekerjaan mereka sangat penting. Dan takutlah, karena katika kalian takut penyakit itu akan semakin mengganas, penyakit itu sedang dalam proses mengganas.

***

            Saya benci dokter atau ilmuan tolol yang bergerak dibidang kesehatan lainya. Karena bagi saya karena merekalah penyakit itu ada. Mereka ada karena mereka tidak ingin sakit. Dan ketika mereka menginnginkan hal itu. ketika itulah tuhan menciptakan energi – energi sakitnya. Sedangkan sakit sebenarnya hanyalah sebuah permainan pikiran. Orang sakit tak lain karena ia ingin sakit, karena hati mereka telah sakit dan membusuk. Dan karena “sakit” lah yang membuat mereka merasa sama dengan lingkungannya. Tolol,.

Untuk sehat sebenarnya kalian cuma butuh bersikap sehat, Baik, dan Gembira. Saya pernah mempraktekkannya pada teman saya. waktu itu dia katanya demam berat. Lalu saya kasih dia satu permen yang saya temukan di jaket yang sudah lama tak saya pakai. Lalu saya bilang padanya : setelah makan permen ini hidupmu akan segar, sehat, dan kau bisa beraktifias seperti biasa.

***

Besoknya dia menelepon saya. “Obat mu mujarab, Kamu dapat dari mana?? Saya butuh lagi. Teman kos saya dapat penyakit serupa”

tolol

Internasionalisasi

Yang dibutuhkan Indonesia adalah menjadi “lebih Indonesia lagi”. Internatiolisasi??

Dikampung saya saat ini sekolah – sekolah sudah mulai memiliki kelas yang berstandarkan internasional. Ah. Tolol.. Para orang tua mengumandangkan kebangaaan mereka di warung terdeka. Mereka pikir kelak anaknya akan sama seperti orang – orang hebat seperti pilem (film) asing yang mereka tonton.

Isu lain yang juga saya dengar, katanya, pemerintah bertekat untuk meng-internasionalisasi-kan pendidikan Indonesia. Apa – apaan ini!!? lagi – lagi zionis berhasil menunjukan pengaruhnya. Tentu setelah ini akan sangat mudah sekali bagi mereka mengontrol kita, bahkan akan sangat enteng bagi mereka mengarahkan pola pikiran kita. Dan parahnya si-tolol ini malah berusaha untuk itu.!

Saya sebenarnya maklum tentang keinginan pemerintah kita untuk maju, hanya saja saya kira mereka salah tafsir menganai apa itu maju. Mereka fikir untuk maju berarti mengalahkan yang lain. Tolol… kenapa tidak ajak perang saja sekalian!?.

Saya senang dengan kutipan Asril Muchtar yang mengatakan seni budaya adalah salah satu peluang besar untuk Indonesia berdiri sejajar dengan bang besar lainnya. Sepertinya Asril sadar setiap orang, setiap bangsa, setiap negara berhak untuk maju. Tentunya sesuai dengan apa yang mereka miliki. “all you have is all you need” saya tidak peduli ini kutipan siapa tapi saya kira ini 70% benar.

Mengabdikan diri unutk menuju internasionalisasi yang ujung – ujungnya hanya akan berkiblat ke zionis atau yahudi atau penguasa barat. Salah satu kesalahan besar yang bapak Presiden dan mentri – mentrinya lupa memikirkan. Ini sama saja terang-terangan mengatakan “budaya kami bodoh, kami tak punya apa-apa, kami akan mengikuti jejak anda!” tolol..

Saya juga pernah baca salah satu opini media Informasi. Pendidikan mestinya menitik beratkan pada kemandirian bangsa. Chheeh.. kurang suci apa lagi manusia ini. Mempertahankan dan mengembangkan kemandirian bangsa adalah satu – satunya pilihan tiap bangsa. Darmaningtyas juga menggambarkan demikian. Internasionalisai hanya akan membuat pendidikan sebagai media komersial. Tapi saya kira itu hanya sebagian dampak kecilnya. Tapi saya juga tidak menjamin ada atau tidak politik kancut meong disini.

***

Tuhan mana pula yang menyatakan Amerika adalah benar? Tuhan mana pula yang menyatakan benar Prancis, Rusia, German, Arab, Israel, Palestina atau Negara tolol lainnya adalah benar?. Atas dasar apa pula kita harus mengidolakan mereka!. Tolol! Bahkan setiap klan berhak untuk dihormati! Setiap mereka yang mandirilah yangberhak untuk dihormati.

Pendidikan yang bangsa kita butuhkan adalah pendidikan yang focus untuk mengembangkan apa yang kita miliki, bukan menjadi seperti bangsa lain. toh nantinya kita juga ga bakal repot beli buku karya orang asing. Yang dibutuhkan Indonesia adalah menjadi “lebih Indonesia lagi”. Intenationalisasi? itu tolol!!

(ARP)

Beatlelisme Dan Gejolah Baru

Malam itu kami melakukan pertemuan, bukan pertemuan disengaja, bukan pertemuan yang kami rencakan sebelumnya. Tapi hanya kebetulan bertemu ditempat yang sama dan izin tuhanlah yang mempertemukan kami. Pertemuan ini saya namakan “konfereni beatalisme”. Pertemuan ini mungkin bukan sebuah pertemuan teman lama, melainkan pertemuan jodoh manusia tolol se ideology. Kami semua adalah penikmat musik The Beatles dan pelanjut ideology Lenon.

Malam itu ada Atuk, Kubu, Eka dan Roni. Waktu itu saya sedang blank kemudian menutup telinga dengan heaphone, menyetel playlist “Al you need is love”nya the beatles. Perjalannan kosong ini tiba – tiba tearahakan ke kadai (warung) kopi Neti, dulu saya sering kesana meneguk kopi bersama kawan – kawan. Padangpanjang, Kota kecil itu kali ini dingin sekali mungkin inlah yang mengarahkan jalan saya menuju kadai neti. Tidak terencana memang tapi dia bergulir begitu rapi dan sistematis. Tidak percaya, ikuti kelanjutannya.

Sesampai di kadai Neti disana sudah duduk Roni dengan segelas capucino dan kumpalan asap rokoknya. Dan taukah? Pada saat itu Roni mengnakan baju “The Betles” yang lagi menyebran di zebracros entah dimana. Itu adalah picture faforit saya. Saya menyakini cerita bahawasanya para personil the beatles adalah hero – hero dari kalang atas, dan the beatles adalah kalangan atas yang berkarya untuk semua kalangan. Dan faktanya memang demikian, musiknya memang dinikmati orang – orang berdasi, orang berjas, dan orang – orang kalangan gelandangan sekalipung. Kalangan gelandangan? Ya itu saya.

Saya dan Roni waktu itu belum terlibat komunikasi langsung, saya sibuk dengan penyumbat telinga saya, menunggu kopi pesanan, dan Roni sibuk menatap kearah jalanan kosong sejauh 1 km. Saya tidak akrab dengan Roni, tapi saya pernah mendengar tentang idealismenya yang membuat kalangan gembel yang satu ini disegeni para elit kampus. Manusia yang sok cuek dengan masalah kampus ini pernah  mengorbankan karismanya pada seluruh civitas kampus untuk menurunkan rector. Dan dia berhasil.

Pesanan kopi saya sudah datang, saya tidak peduli apakah untuk menikmati kopi orang – orang biasanya memutar lagunya The Betles. Tapi pada saat itu mood saya yang meminta demikian. Kubu datang dari kejauhan jalan yang dipandang roni. Bunyi motornya yang berisik, dan asapnya yang banyak membuat alis Roni tiba – tiba menyatu. Dibelangkang sedang bonceng Atuk dengan menyang dua biola miliknya dan satu lagi milik Kubu.

Saya menyapa mereka berdua untuk mampir, saya pernah satu kos dengan mereka berdua. Dan disinilah saya diperkenalkan secara langsung pada Roni. Kubu, Atuk dan Roni satu jurusan di kampus. Dan taukah? Kubu dan Atuk baru saja kembali dari latihan, mereka adalah pemain orkestra yang akan mengiringi bupati tolol yang bakal menggelar tur konser the beatles di taman budaya padang.

Katanya mereka sangat senang dapat ajang membawakan lagu – lagu faforit mereka. Atuk dan kubu memesan kopi. Satu kesimpulan yang bisa saya tarik, penggemar The Beatles sepertinya juga harus minum kopi. Saya melepas headphone saya, mengkuti pembicaran yang tanpa sadar telah kami bangun. Kubu meceritakan betapa indah dunianya ketika memainkan single yesterday. Kemudian Atuk bercerita betapa ia ingin mati seperti Jhon Lenon.

Kami sadar betapa pedasnya syair –syair yang ditulis Lenon, hingga tak hanya orang – orang yang berpendidikan yang ditariknya menjadi penggermar, tapi para radikal dan pemegang pistol pun juga tertarik. Pembahasan berlanjut dengan kematian Jhon Lenon. Menurut Roni kematian Lenon yang ditembak oleh fansnya, yang mecari sensasi itu bohong belaka. Cerita yang yakini Roni adalah kematian idolanya itu adalah akibat ketakutan penghuni gedung putih. Tidak bohong, The Beatlas memiliki masa yang sangat banyak dan tersebar diseluruh pelosok dunia. Wajar penguasa gedung putih merasa terancam, syair –syair lenon hanya akan membut masyarakat dunia membencinya. Lenon harus mati! itulah yang dikatakan penguasa gedung putih menurut pikiran Roni.

Terakhir saya baru sadar, ini bukan cerita mengenai The Beatles atau Lenon. Ini cerita tentang segelintir orang yang hormat pada setiap mereka yang berani berlaku benar. Generasi beatles, berhak mati jadi kenangan. Selamat datang di gejolak baru. (ARP)

Rapi

Apa sih defenisi rapi??

Ketika saya bertanya pada orang-orang tentang rapi saya heran kenapa yang mereka gambarkan seorang pria yang menggunakan kemeja licin dengan sudut lurus di berbagai sisi, Dimasukan kedalam celana. Ikat pinggang kulit. Rambut berminyak dengan sisir kepinggir. Celana dasar. Sepatu kulit. Dasi. Jas dan omong kosong lainya.

Mengingat omong kosong ini saya mengkategorikan pakaian dalam tiga macam; pertama mereka yang berpakaian mengikuti mode hari ini. Kedua berpakaian yang membuat mereka nyaman. Ketiga, berpakaian rapi.

Bagi saya tiga poin diatas sama sekali berbeda. Kategori pertama, itu adalah mereka yang dikejar – kejar gengsi. Dengan tegas saya katakana ini salah. Tak jarang mereka yang disini terlihat murahan setelah memakai pakaian mahal. Di perbodoh zaman. Bayangkan saja kebaya pesta yang mereka beli 100juta itu, akan menjadi 120juta setelah designer-nya dengan mantap menambah beberapa lubang, yang katanya mode, padahal cuma bikin gatal-gatal.

Tipe kedua, mereka yang berpakaian yang bisa membuat mereka merasa nyaman. Terang-terang pula saya katakan “salut” untuk mereka. Tapi Gobloknya-nya mereka yang merasa nyaman ini sempat merasa tolol ketika mereka berada dalam keramaian. Mereka merasa “peradapan” telah mengklaim apa yang mereka gunakan adalah salah!. Hingga mereka cendrung tidak terbuka. Huh. Tolol.

Rapi? Rapi sering juga disamakan dengan kataegori pertama. Tapi bagi saya ini sama sekali berbeda. Kategori pertama jelas sekali tujuan mereka menunjukan isi kantong mereka. Sedang rapi menunjukan mereka bermartabat atau berpendidikan, katanya. Menunjukan wibawa sesuai dengan profesi atau karakter yang coba orang nilai mengenai idealisme mereka. Dan parahnya enatah siapa yang mengampanyekan bahawa rapi itu seperti presiden obama..?  Memalukan sekali. Dan hal ini juga berkembang di negara menyedihkan ini. Yang saya salutkan adalah presiden turki yang dengan bangga memakai gamisnya ketika menemui siapa saja.

Coba kita lihat pemimpin Arab yang gagah dengan jubahnya meyapa siapa saja, Pemimpin India. Kepala Suku Papua, Dayak, Dan beberapa lainya. Saya jadi teringat ketika seorang teman dikampus seni yang menuduh rector telah bersekongkol meruntuhkan budaya.

Kejadian ini sebenarnya berawal dari hal kecil saja. Saya menyaksikanya dengan jelas pada waktu itu. Waktu teman saya dengan percaya diri menggunakan celana batik yang di designnya hingga terkesan sarung, dan juga memakai kaos longgar yang di dapatinya dari Lombok. Di lobi fakultas, Rektor menyapa teman saya ini;

“kamu kalau ingin tetap kuliah disini tolong berpakaian rapi”

“maksud bapak?”

“bagaimana mungkin calon intelek berpakaian seperti ini”

“atas dasar apa bapak mengatakan ini bukan pakaian intelek,? Berkiblat kemana bapak?”

“tidakkah dirumah kau punya tivi? Lihatlah dijakarta sana, semua orang memakai kemeja, korea, dan sebagainya.”

 

Saya hanya tertawa ketika si rector hanya terdiam. Tolol.

(ARP)

Berbahaya

“bagiku hal kecil menandakan sikap. Dan hal besar akibat kebodohan yg berkedok kilaf.” -ARP-

Kutemukan sepasang merpati dalam masalah. Kasihan sekali. si betina kelihatan polos tak tau apa-apa, aku anggap itu sebagai peluang. Kutangkap dia. Ku belai dan ku jinakan dia. Beberapa bulan bersama, aku jatuh cinta. Tak peduli itu timbal balik. Tak mau ku lepas dia. Akan tetap ku rawat walau apa daya.
Hingga suatu hari yang mulai merubah rasa tiba. Merpati itu masih mencuri-curi siul pada mantan kekasihnya. Aku lupa dia merpati surat. Liar tak terkendali berkata-berkata indah dengan siapa saja. Dengan segala cara aku taklukan dia. Namun tanpa sadar aku adalah orang berbahaya.

Aku bisa mengendalikan apa saja. Aku jg mengendalikan suka bahkan duka. Dan tanpa sadar juga ternyata aku tak lagi dalam cinta. Aku bediri dengan yang kupunya. Berbuat yg kubisa. Mendapatkan apa yg aku suka.
Ketika itu aku sadar aku ternyata benci untuk mencinta. Penghianatanya muncul dalam banyak cara, banyak gaya, dan bahasa. Memancing ku berbuat dosa.

“bagiku hal kecil menandakan sikap. Dan hal besar akibat kebodohan yg berkedok kilaf.”

kalau begini tak mungkin kau temani aku menjelang senja. Mulai saat itu yang aku lakukan adalah yang aku suka. Aku suka dia suka. Aku horni mendengar siulanya. Mendapat belaian ku dia bahagia. Aku memberi sekedar dan meminta banyak.

Tak lama, tapi sudah cukup untuk melewati dewasa. Aku bosan.  Aku mendapat peran diktator. Mengendalikan sesuka. Aku tak lagi tergantung pada nya. Aku hanya ingat komitmen. Aku memberinya karena dia beri yang aku pinta. ada yang tidak lagi ikhlas disini.

Aku melihat dia teraniaya. Aku lepes dia tak mau. Ya sudah nikmati saja. Dan jangan buat aku kecewa. Tapi apa daya. Aku tak selalu memaafkan untuk dosa. Aku slalu menggigit kecawa. Sekarang pergilah aku tak lagi aniaya. Kadang kau membuat ku gila untuk menganiaya. Dasar burung sialan!
Pergilah. Kau masih muda. Kalau hanya memaafkan saja.. Aku yang teraniaya..
Ya. Berat melepas mu 2 tahun aku hanya mendengar siulmu membelai bulu mu. Tapi aku berusaha. Karna yakin masih mengendalikan apa saja.

Aku lahir dari ayah pemikir. Ibu yg cerewet berhati bata. Saudara2ku berjalan apa adanya. Dan aku orang berbahaya.

(ARP)

Kalian Telanjang!

Taukah kalian bahwa di belahan bumi sana terdapat suatu lembaga yang menyuruh lembaga lain mendanai lembaga agar lembaga tersebut membuat berbagai lembaga atau media untuk menjaring semua informasi seluruh pelosok bumi ini. Mereka bukan saya. karena saya juga korban mereka. mereka adalah “anjiang” yang sudah mulai gamang mengontrol buruannya.

Percuma sembunyi, tak ada lagi yang “Privasi” dibumi ini. Dimata mereka kalian hanyalah telanjang. Kalau kalian benci mereka, baguslah. Mulai dari sekarang hapuslah semua akun yang telah kalian tanam di jejaring-jejaring sosial manapun. Hack semua yang telah menyebut nama kalian. Tarok BlackBerry di jalanan. Lupakan Androit. Bakar lembaga yang telah mendata E-KTP kalian. Bunuh Mentri Informasi. kemudian berdoa lah.!!

So How About Me??? saya tidak sembunyi. kalian dengan mudah bisa mengenal saya.

(ARP)

Free Or Be A Calf

Now Playing: Donna Donna – Joan Beaz<

“stop complaing” said the farmer, who told you a calf to be.
Why dont you have wings to fly with, like swallow so proud and free…
(lebih lengkapnya silakan tanya mbag google)

Begitulah potong lirik lagu Donna – Donna versi b.inggris yang translate oleh Schwarts. Lagu ini dikenal oleh banyak kalangan aktivis dunia. lagu ini ditenarkan Joan Baez di era 60an. Dia seorang penyanyi, penulis lagu dan juga aktivis anti perang. Entah apa situasi yang membuat lagu ini tenar pada masa itu.

Saya sendiri kenal lagu ini baru beberapa tahun lalu dari film GIE. Waktu itu tokoh ida (eh, ida ato ita ya?) menyanyikanya di salah satu kegiatan yang diselenggarakan mahasiswa, di Jakarta. Ketika konflik mengenai kebebasan sedang bergejolak. Lagu ini seakan menuntut revolusi harus segera terjadi. Dan saat ini revolusi itu sudah benar-benar terjadi, atau mungkin sedang dalam proses.

lagu diatas sangat multitafsir, kaya makna, dan mahal. Setiap orang akan menafsirkanya berbeda2 sesuai dengan pengalaman dan situasi. – ARP -

Lalu bagaimana disituasi saat ini? Kediktatoran pun sepertinya sudah mati. Dari kaca mata yang “baru di beli” saya melihat lagu ini sebagai pilihan. Pilihan A & B, yang mungkin masih bisa di tawar.

Pilihan A,
hidup seperti anak sapi, lahir, tau-taunya sudah ada ditangan ‘sistem’. dipasangkan tali, menjadi bajak untuk bertani, tua, dijual, dan mungkin hadir di meja hidangan.

Pilihan B.
Seperti Swallow (burung layang-layang), belajar terbang jika memang tidak ingin jatuh, bebas, bermain-main dengan tantangan peluru.

Dalam lagu tadi digambarkan seekor anak sapi dalam kereta kandang menuju pasar. Dengan mata duka ia menatap swallow yang terbang indah diatasanya.
Kalau saya si anak sapi, saya ingin protes, kenapa dia tidak dilahirkan menjadi swallow saja, setidaknya akan punya kesempatan belajar terbang.

Anak sapi yang malang. Tapi sekarang kita sudah memasuki era diamana untuk menuju puncak kita harus belajar memanjat/mendaki. 2011 baru saja berlalu, masih dalam suasana yang tepat untuk evaluasi. Sudah sejauh manakah kita memanfaatkan kebebasan ini..!? Sejauh mana kita bersyukur tidak dilahirkan sapi??

Sekarang kita memasuki 2012. Sudahkan kawan-kawan siapkan jurus yang lebih dasyat lagi untuk memanfaatkan kebebasan ini..!??

(ARP)