
Malam itu kami melakukan pertemuan, bukan pertemuan disengaja, bukan pertemuan yang kami rencakan sebelumnya. Tapi hanya kebetulan bertemu ditempat yang sama dan izin tuhanlah yang mempertemukan kami. Pertemuan ini saya namakan “konfereni beatalisme”. Pertemuan ini mungkin bukan sebuah pertemuan teman lama, melainkan pertemuan jodoh manusia tolol se ideology. Kami semua adalah penikmat musik The Beatles dan pelanjut ideology Lenon.
Malam itu ada Atuk, Kubu, Eka dan Roni. Waktu itu saya sedang blank kemudian menutup telinga dengan heaphone, menyetel playlist “Al you need is love”nya the beatles. Perjalannan kosong ini tiba – tiba tearahakan ke kadai (warung) kopi Neti, dulu saya sering kesana meneguk kopi bersama kawan – kawan. Padangpanjang, Kota kecil itu kali ini dingin sekali mungkin inlah yang mengarahkan jalan saya menuju kadai neti. Tidak terencana memang tapi dia bergulir begitu rapi dan sistematis. Tidak percaya, ikuti kelanjutannya.
Sesampai di kadai Neti disana sudah duduk Roni dengan segelas capucino dan kumpalan asap rokoknya. Dan taukah? Pada saat itu Roni mengnakan baju “The Betles” yang lagi menyebran di zebracros entah dimana. Itu adalah picture faforit saya. Saya menyakini cerita bahawasanya para personil the beatles adalah hero – hero dari kalang atas, dan the beatles adalah kalangan atas yang berkarya untuk semua kalangan. Dan faktanya memang demikian, musiknya memang dinikmati orang – orang berdasi, orang berjas, dan orang – orang kalangan gelandangan sekalipung. Kalangan gelandangan? Ya itu saya.
Saya dan Roni waktu itu belum terlibat komunikasi langsung, saya sibuk dengan penyumbat telinga saya, menunggu kopi pesanan, dan Roni sibuk menatap kearah jalanan kosong sejauh 1 km. Saya tidak akrab dengan Roni, tapi saya pernah mendengar tentang idealismenya yang membuat kalangan gembel yang satu ini disegeni para elit kampus. Manusia yang sok cuek dengan masalah kampus ini pernah mengorbankan karismanya pada seluruh civitas kampus untuk menurunkan rector. Dan dia berhasil.
Pesanan kopi saya sudah datang, saya tidak peduli apakah untuk menikmati kopi orang – orang biasanya memutar lagunya The Betles. Tapi pada saat itu mood saya yang meminta demikian. Kubu datang dari kejauhan jalan yang dipandang roni. Bunyi motornya yang berisik, dan asapnya yang banyak membuat alis Roni tiba – tiba menyatu. Dibelangkang sedang bonceng Atuk dengan menyang dua biola miliknya dan satu lagi milik Kubu.
Saya menyapa mereka berdua untuk mampir, saya pernah satu kos dengan mereka berdua. Dan disinilah saya diperkenalkan secara langsung pada Roni. Kubu, Atuk dan Roni satu jurusan di kampus. Dan taukah? Kubu dan Atuk baru saja kembali dari latihan, mereka adalah pemain orkestra yang akan mengiringi bupati tolol yang bakal menggelar tur konser the beatles di taman budaya padang.
Katanya mereka sangat senang dapat ajang membawakan lagu – lagu faforit mereka. Atuk dan kubu memesan kopi. Satu kesimpulan yang bisa saya tarik, penggemar The Beatles sepertinya juga harus minum kopi. Saya melepas headphone saya, mengkuti pembicaran yang tanpa sadar telah kami bangun. Kubu meceritakan betapa indah dunianya ketika memainkan single yesterday. Kemudian Atuk bercerita betapa ia ingin mati seperti Jhon Lenon.
Kami sadar betapa pedasnya syair –syair yang ditulis Lenon, hingga tak hanya orang – orang yang berpendidikan yang ditariknya menjadi penggermar, tapi para radikal dan pemegang pistol pun juga tertarik. Pembahasan berlanjut dengan kematian Jhon Lenon. Menurut Roni kematian Lenon yang ditembak oleh fansnya, yang mecari sensasi itu bohong belaka. Cerita yang yakini Roni adalah kematian idolanya itu adalah akibat ketakutan penghuni gedung putih. Tidak bohong, The Beatlas memiliki masa yang sangat banyak dan tersebar diseluruh pelosok dunia. Wajar penguasa gedung putih merasa terancam, syair –syair lenon hanya akan membut masyarakat dunia membencinya. Lenon harus mati! itulah yang dikatakan penguasa gedung putih menurut pikiran Roni.
Terakhir saya baru sadar, ini bukan cerita mengenai The Beatles atau Lenon. Ini cerita tentang segelintir orang yang hormat pada setiap mereka yang berani berlaku benar. Generasi beatles, berhak mati jadi kenangan. Selamat datang di gejolak baru. (ARP)